Dark Roses

Selasa, 24 Januari 2012

Lintang haluan

Malam yang begitu sunyi, hanya terdengar suara alunan musik yang redup terdengar, semilir angin yang berhembus memasuki celah celah jendela lantai 6 yang sedikit terbuka..
Aku disini tengah asik berkutat dengan alat elektronik modern yang banyak menguras tenaga ku untuk tetap fokus melihat ke layar kacanya.
Hampir tengah malam ini tangan ku masih saja terampil menekan tiap tiap tombol huruf dan angka pada papan nya.
Ya.. Inilah aku seorang wanita muda yang sedang gencar mencari uang, ilmu dan pengalaman untuk tabungan masa tua ku kelak.
Aku memang sudah menyiapkan diri untuk bekerja sesudah aku lulus sekolah nanti, maka akupun mengambil Sekolah Kejuruan untuk lanjutan sekolah ku saat lulus SMP.
Sekolah menengah Ilmu Pariwisata adalah pilihan ku. Aku telah 3 tahun menimba ilmu disana. Memang kami yang bersekolah di kejuruan di siapkan untuk bekerja setelah kami lulus. Banyak hal yang tidak aku pahami dahulu menjadi aku kuasai sekarang.
Itu Karena Aku inginkan hidup mandiri, Aku tidak suka berada di bawah ketiak orang tua apalagi menyusahkan mereka lagi lagi dan lagi, Sudahlah cukup mereka membesarkan ku yang banyak melawan ini sampai besar, begitu tak pantas nya jika aku bisa berusaha dengan tenaga dan kemampuanku tetapi masih saja mempergunakan tenaga orang tuaku yang sudah renta.
Aku pun bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai citaku, menggengam asaku tak semudah yang ku bayangkan dahulu kala saat masih memegang pekerjaan sebagai siswi.
Untuk mencapai mimpi ku, aku memulai pekerjaan pertama ku sebagai server di restaurant dan Bar daerah Jakarta Selatan. Tak kuat rasana tubuhku ini menahan letih yang teramat sangat karena kami bekerja saat langit meredup sampai sang fajar menyingsing menuju ke peraduannya. 6bulan aku menimba ilmu dan mencari sebongkah emas disana,ku pikir dengan bekerja disana aku bisa meneruskan sekolah ku kejenjang yang lebih tinggi. tetapi ku salah..Banyak pengalaman serta ilmu yang kudapat tapi itu pun tengah mengubah pikiran,visi,serta tingkah ku. Aku terjerat oleh semua hal yang bertentangan oleh semua norma yang ada. Hal yang tak biasa bagiku dulu, menjadi hal yang wajar untuk ku sekarang. Sampai sampai aku menyebut nya sebagai "Kebutuhan". Sungguh Ironis diriku ini, Aku adalah debu yang berharap menjadi sesuatu yang nyata,yang dapat di genggam.. tapi...aku telah berhembus ke arah angin yang salah, mengikuti jejak angin yang akan berubah menjadi badai,Badai yang dapat menghancurkan segala yang terlewat di hadapannya.
Dalam sendiriku.. aku menangis meratapi semua yang tlah kulakukan selama ini. Tapi ini tak dapat mengubah ku sepenuhnya.
Aku pun berhenti bekerja di tempat itu dan memulai pekerjaan baru ku di bidang yang sebenarnya tak kukuasai sepenuhnya. ku mengerti tapi aku tak sepaham khalayak yang berada di bidang itu. Karena awalnya itu bukan lah bidangku. Bekerja di perusahaan tour and travel sebuah travel agency yang bergerak dibidang jasa,Disini aku bekerja sebagai "staff ". Pembelajaranku di mulai saat pertama kali bergabung sampai saat ini,Aku masih terus gencar menambah ilmuku.
Tak disangka di tempat inilah aku bertemu dengan "DIA" seorang yang bisa membangunkanku dari ruang gelap serta keterpurukanku. Dia menujurkan tangan kepadaku, dan tanpa pikir panjang akupun membalasnya. Menggemgamnya dengan erat menyentuhnya saat ia pun menyentuhku. Tapi saat ia menaparku dengan kerasnya... Aku tak dapat membalasnya, bahkan memakinya pun tak sampai hati. Hanya bisa menitikan air matalah yang dapat kuperbuat, mengutuk diri sendiri, dan menghujat keputusanku.
Cinta yang salah dan terlarang telah aku jalani dan menyisakan keterpurukanku. Aku terus tenggelam dalam kegelapan yang menjadikan hidupku abu abu.. Meskipun aku tlah berusaha untuk mengejar tepian dan menorehkan warna cerah di dalamnya. Ruangku semakin sempit, Aku makin tercekik. Lelah aku bernafas disana dan kuputuskan meneruskan kisahku di pesiar lain, yang akan memberikan warna warni di ruangku dan impiku.
Banyak ku berharap disaat ku melangkahkan kaki ku. tak jarang ku pejamkan mataku untuk sekedar mengucap doa kepada sang Ilahi.
Pikirku inilah langkah awalku yang baru menuju terang yang selayaknya kudapati. Jantung ku berdetak keras manakala suara laki laki itu menyentuh gendang telingaku. "kau di terima" ucap laki laki yang berada di depanku. Tak kuasa ku panjatkan puji dan syukurku kepada-Nya Sang Ilahi. Ku yakin Ia menginginkan aku bangkit dan membenahi diri.
Hari hari yang kujalani di tempat baruku ini memberikan wangi yang berbeda. Baunya sangat asing kurasa,mungkin karna tak terbiasa. Aku mempelajari hal yang baru, serasa menapaki bukit terjal yang medannya sangat curam bagiku yang awam ini. Tak ada lelah ku tepikan di kakiku yang terus menanjak menuju puncak. Dalam hati kubicara pada diriku sendiri "Bukan tak mungkin debu dapat berubah menjadi sesuatu nyata dan berguna". Kulangkahkan kaki tanpa ragu ataupun memikirkan cinta. Bagiku saat itu cinta tak nyata.
Lama sudah kurasa kaki ku menanjak di haluan yang terjal seorang diri sampai pada suatu hari ia kembali ke padaku dengan tangannya yang menjulur penuh kepastian. Banyak cerita pahit yang ku kenang tentangya. Kupikir dengan seksama. Logikaku berkata "tak ada cerita lagi antara kau dan dia". Tapi hati ku berkata " tak ada kesempatan kedua dalam hidupmu,ia cintaimu lalu apalah lagi yang kau mau?". Darahku bergemuruh mengalir deras sampai keubun ubun. Setelah kubuka mataku tanpa sadar ternyata tanganku telah berada di telapak tanganya. menyentuhnya dengan lembut,sampai ia memelukku kembali dalam dekapannya, kurasakan panas tubuhnya yang menyatu dengan panas tubuhku, dadanya yang bidang, mendekapku penuh dengan rasa sayang. Saat itu pun aku berucap "Tuhan jagalah hatinya agar selalu merasakan kasih hatiku".
Ia kembali itu nyata. Dengan memegang tanganku ia pun memandangku dengan senyumnya yang tulus ia berkata "mari kita daki haluan yang terjal ini bersama menjadi lebih mudah bagi kita,bukan kau seorang" . Aku berada disampingnya membalas senyumnya dengan hangat dan suara lirih aku berkata "terimakasih menemaniku". Kami pun berjalan menyusuri haluan terjal yang berada tepat didepan kami. saling membantu saling tertawa, walaupun kadang kala kami tersandung dan terjatuh. Tak ada putus asa bagi kami ,tak ada niat mundur bagi kami. Inilah rintangan yang akan dihadapi oleh tiap tiap makhluk yang hidup di bumi. Inilah "HIDUP"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment it.. if there is the good Advice
willing to accept advice