Fajar telah menyingsing samar samar kudengar suara kicauan burung beralun dari kejauhan, secercah cahaya yang tiba tiba saja menusuk ke mataku. membuat ku tersadar dari alam impiku. Semilir angin yang berhembus tengah melambai lambaikan rambutku perlahan . Aku tersadar dan kulihat tubuhnya tengah berbaring lemas di sampingku. Dadanya yang bidang dan tangannya yang hangat masih memelukku sehingga ku terjaga. Kukecup keningnya dengan lembut kubelai pejantannya yang tengah tertidur pulas, dan dengan hangat ku sapa ia, "selamat pagi, terimakasih atas kerja keras mu semalam"(sembari tersenyum lemah). Kaki ku beranjak turun dari persinggahan seraya mengambil potongan potongan kain yang terhampar di lantai dengan mata setengah tertutup ku bersihkan diriku dari riakan riakan pejantannya dan betinaku. kusiapkan sepotong roti untuknya kekasihku. Kubangunkan ia dan pejantannya untuk ku siapkan mereka sebelum memulai aktifitas hari ini.
Tanpa rasa cemas ataupun enggan, kami pun bergegas keluar dari bilik yang tengah semalaman kami sewa demi menuntaskan hasrat kami. hasrat betinaku dan pejantannya.
Menuntaskan hasrat kami bukanlah sesuatu yang aneh atau terlihat menjijikan, pikirku kala itu menuntaskan hasrat adalah hal yang biasa dilakukan oleh dua manusia yang sedang haus cinta. Panasnya cinta membuat kami terlena dan menghempaskan perbuatan perbuatan apa saja yang kami inginkan,kami menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan "ya,kebutuhan hidup"ucapku. Apalah arti celotehan orang lain,apapun menjadi tidak penting untuk didengar atau dilihat "toh,aku tidak hidup dari uang mereka,huh siapa mereka!".
Menuntaskan hasrat kami bukanlah sesuatu yang aneh atau terlihat menjijikan, pikirku kala itu menuntaskan hasrat adalah hal yang biasa dilakukan oleh dua manusia yang sedang haus cinta. Panasnya cinta membuat kami terlena dan menghempaskan perbuatan perbuatan apa saja yang kami inginkan,kami menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan "ya,kebutuhan hidup"ucapku. Apalah arti celotehan orang lain,apapun menjadi tidak penting untuk didengar atau dilihat "toh,aku tidak hidup dari uang mereka,huh siapa mereka!".
Tak terasa sudah sekian lama kami bersama selama itupun betinaku dan pejantannya bertemu, saling bersenggama, dan saling menumpahkan keringat.Hingga pada suatu hari terbesit di benakku, apa yang sedang ku lakukan?. Apa yang tengah kuraih?". Semua hal terasa semu dan tak bisa kusentuh, "Oh Tuhan apakah aku tengah merasa jenuh?". Apa jenuh ini tengah sepenuhnya berhasil untuk menyetubuhiku?". Aku memohon kepada Tuhan untuk menghilangkan rasa itu. Rasa yang tak jelas dari mana asalnya,rasa yang bertambah samar bahkan akupun tak tahu apalah rasa itu.Dibalik jendela lantai 6 tempatku bekerja, aku termenung terbuai oleh pikiran pikiran dan rasa yang tak jelas asalnya.
Tiba tiba datanglah seorang teman seraya membelai bahuku dan berkata "jika kalian saling mencinta apakah harus selalu kalian lakukan perbuatan itu. perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh dua pecinta yang telah mengikrarkan kasihnya? Bukankah yang kutahu ia cintaimu,lalu mengapa?".
Tiba tiba datanglah seorang teman seraya membelai bahuku dan berkata "jika kalian saling mencinta apakah harus selalu kalian lakukan perbuatan itu. perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh dua pecinta yang telah mengikrarkan kasihnya? Bukankah yang kutahu ia cintaimu,lalu mengapa?".
Kala itu ,tak ada kata kata yang terbesit dibenakku untuk menjawab. Tak ada kalimat yang kuluncurkan, hingga sampai beberapa saat kami terdiam,merenung,termakan oleh waktu yang terus berjalan. Aku merenung,merenungkan perbuatannku yang tak kutahui itu khilaf atau kesengajaan akan nafsu birahiku sendiri,ataukah itu jeritan betinaku yang selama bertahun tahun ini tak terpakai selain untuk membuang air seni? bahkan cairan yang sewajarnya aku keluaran tak pernah kurasakan keberadaannya.
Aku terhuyung dalam pekatnya malam, seakan tubuhku yang lunglai juga terbawa oleh angin yang berhembus pelan. Mataku tajam menatap kearah para pencakar langit tak jauh dari tempatku berada.Belaian angin yang menyentuhku lembut perlahan memasuki cela cela pori tubuhku.Ya sudah lama kami tak bertemu aku dan lelakiku.
Tak lama setelahnya samar samar kumendengar seseorang tengah membisikiku, membisik dengan penuh hujatan. Suara itu terus menghina,memaki,serta menghardikku. Tak ada perasaan tenang dalam hatiku batinku. Suara suara yang terus kudengar,ia mengikutiku seakan ikut mengiringi jalanku. Semakin lama ku terdiam semakin jauh ku melangkah semakin aku berlari kencang dan semakin kumenghindar jeritannya pun semakin kencang kudengar seakan ia tengah memaksaku untuk mengalihkan wajah kepadanya.
"Aku tak akan memalingkan wajahku kepadamu" jeritku . "kau hanya lah ilusi dosaku", "kau bahkan semu", "aku tak peduli hadirmu ataupun hardikanmu kepadaku". Di sudut lentera yang menyala redup, tepat di samping meja kecil ak menyelipkan tubuhku yang bergemetar sambil ku tutup kedua daun telingaku. Tak bisakah aku melakukan sesuatu? pikirku.
Tak lama setelahnya samar samar kumendengar seseorang tengah membisikiku, membisik dengan penuh hujatan. Suara itu terus menghina,memaki,serta menghardikku. Tak ada perasaan tenang dalam hatiku batinku. Suara suara yang terus kudengar,ia mengikutiku seakan ikut mengiringi jalanku. Semakin lama ku terdiam semakin jauh ku melangkah semakin aku berlari kencang dan semakin kumenghindar jeritannya pun semakin kencang kudengar seakan ia tengah memaksaku untuk mengalihkan wajah kepadanya.
"Aku tak akan memalingkan wajahku kepadamu" jeritku . "kau hanya lah ilusi dosaku", "kau bahkan semu", "aku tak peduli hadirmu ataupun hardikanmu kepadaku". Di sudut lentera yang menyala redup, tepat di samping meja kecil ak menyelipkan tubuhku yang bergemetar sambil ku tutup kedua daun telingaku. Tak bisakah aku melakukan sesuatu? pikirku.
Tolong aku !! siapapun yang juga mendegar hardikannya yang keras ini tolong lah aku!! jika ini adalah sumpah serapahmu terhadap ku Tuhan, Maka tolong hilangkanlah jeritannya, jeritan yang meghardik ku.
Mentari tengah menyongsong , tersadarlah aku manakala hari sudah berganti. waktu telah berjalan mengikuti roda dunia yang terus berputar. Hari itu aku tak melangkahkan kaki ku ketempat yang byasanya kudatangi di jam itu. Waktu terus berdenting aku telah bersiap tapi tidak untuk menguras semua isi otakku. Aku berjalan menyusuri kota yang saat itu aku singgahi untuk mencari sebongkah emas, Ya.. untuk bernaung!
Aku terus berjalan seakan tak kenal lelah. Mentari yang redup dan hangat ku rasa berubah menjadi amat terik, hangat nya semakin panas . Panas yang kurasakan tak menghalangiku sedikitpun untuk terus berjalan setapak dan setapak,.
Hingga sang Raja Terik telah tertidur di peraduanna aku duduk berpangku tangan di sebuah kursi di taman itu, Pohon yang rindang serta cahaya yang keluar dari lampu bulat itu menyelimutiku, Sudah 6bulan ini aku dan sang kekasih tak berjumpa. Sejak hardikan si kelamin terdengar menyakiti telingaku. Aku tak tau apa yang kurasa. semua terasa hampa,kosong, yang kupikir adalah biarkan aku kembali kemasa terangku.
Dalam bayang dan pikirku aku mencari jalan .jalan terang yang byasa ku lewati. Tapi kini aku hanya bisa berdiam di taman rindang berselimut terang purnama dan lampu bulat disekitarnya.. Ku Teliti tiap tiap manusia di sekitarku, Dikota ini siang bagaikan malam dan malam bagaikan siang. Riuh suasana yang kurasa. Bergandengan tangan dengan kekasih, bergerombol dengan kerabat serta banyak juga wanita serta lelaki yang berdandan seperti wanita yang menjajakan dirinya dsini.
Kulihat dengan seksama sepasang kekasih itu.Mereka duduk tersipu di hadapanku, tanpa memperdulikan pandanganku mereka bersenggama, telapak tangan saling meronta membuat mereka seakan seperti harimau yang mencari mangsa dan kehausan. Apa?? apa yang kau sedang perbuat dengan laki laki mu wahai wanita?" , mengapa kau melakukan itu padahal kau wanita?". pikiranku terus menerus bergelut dengan tanya yang tak mengandung jawab, dan bahkan tak tahu dimana jawab itu berada. Sambil terus kupandangi mereka sambil terus ku menyerengit muak.
Tuhan.. apakah ini yang kau rasakan padaku saat kelaminku bersenggama dengan kelamin lainnya?". Tak ada ikrar pasti atas kelakuanku itu. Tak ada janji suci pasti yang terlontar dari mulut kami. Dan tak ada mata lain juga yang menyaksikan ikrar tak pasti kami. Sambil terus kulihat sambil terus ku berfikir dan meminta maaf pada sang Ilahi, sampai sampai tak kuat rasanya ku berada di alam nyata ini sekarang. Badanku terhuyung berdiri dan berlari terus berlari tak tau arah. Nafasku terengah mulutku melontarkan kata kata dengan suara terkikis nafas yang terjepit. "Kemana,,,kemana langkah ku terarah?". Dipelarianku, mataku di penuhi dengan pemandangan hina. Mereka yang tak jelas sumpahnya menyatukan diri mereka di balik bilik. dipojok gedung, dengan berselimutkan redupnya lentera dan bulan purnama mereka terus asik bersenggama. Ku mendengar suara kelaminnya, pejantan yang memasuki liang kemih betinanya. Pejantannya melumatkan muntahan riaknya yang disambut juga dengan riak betinanya. Suaranya..suaranya terdengar sangat pasti, seakan terekam di otakku.
Tolong tolong aku. Suara itu tak samar kudengar,rintihannya tak asing bagiku. suara riaknya sama sepertiku saat itu. Aku terus berlari menjauh dari kehidupan hina yang kulewati. Sampai di sebuah persimpangan jalan tubuhku yang lunglai dan letih seakan terbentur sesuatu. Ku menutup mata dan terus mengeluarkan air yang membasahi pipiku. Lalu tiba tiba seseorang meletakkan jemarinya di sisi pipiku. Hangat belaian yang kurasa tak asing bagiku, tubuhku telah mengenalinya. Ia mencium keningku, menjilati air yang membasahi pipiku dan kelopak mataku,dan berkata "Apa yang kau tengah lakukan saat ini? apa yang menghantuimu?". Suara yang samar kudengar itu membuka rekaman di otakku. ku buka mataku dan ku pandang ia, sejenak aku terperangah. "Laki lakiku..pejantanku...." aku menjerit. "ku rindu kau, ku butuh hadirmu" aku berkata kepadanya". dia tersenyum dengan sigap memelukku, lalu membawaku ke ruangnya. Ruang yang hangat dan nyaman. Aku terbaring di tempat peristirahatannya yang terbuat dari bungkusan bulu angsa yang lembut, Ia memanjakanku dengan penuh kasih yang kurasa murni. Kekasihku, lentera hatiku. kami terhanyut dalam redupnya purnama, seakan tak ingat lagi apa yang telah kulewati sebelum ku bertemu kembali dengannya. Kami saling meletakkan tubuh kami dengan seksama. mencari dan mencari birahi kami. Hormon kami yang menyatupun semakin meninggi kadarnya. Tak kuasa ku menahan dan kuputuskan untuk menikmatinya, menikmati setiap jilatan dan belaian dirinya di tubuhku. Kelaminnya yang sangat jantan yang memasuki liang riak di kelaminku, betinakupun mulai memancarkan senyumnya kembali. Meskipun ini hina karna tak ada sumpah pasti, tapi ini kenikmatanku. Hanya satu yang pasti "DIA ADALAH PEJANTANKU".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
comment it.. if there is the good Advice
willing to accept advice